Stigma Game di Mata Orangtua

Stigma Game di Mata Orangtua : “Kami juga memiliki Sistem Rating Game Indonesia (IGRS), sehingga penerbit atau pengembang dapat memberikan informasi yang jelas tentang konten dan batasan usia permainan mereka dapat dimainkan,” katanya.

Antonius Malau, Plt. Direktur Kontrol Aplikasi Komputasi mengatakan: “Jika memang ada pengembang nakal, maka pihak Anda dapat mengambil tindakan tegas jika ada game yang melanggar hukum.”

Meski sudah ada IGRS, banyak orang tua yang masih melihat bahwa bermain game hanya membuang-buang waktu dan memiliki unsur bermain.

“Semua yang dianiaya pasti berdampak negatif, semuanya bisa jadi judi. Misalnya plat nomor mobil yang lewat,” jelas Semuel.

Oleh karena itu, orang tua harus memperoleh pengetahuan yang mendalam tentang permainan. “Banyak permainan yang memiliki unsur pendidikan, mengajarkan budaya perusahaan dan nasionalisme,” jelasnya.

“E-sports seperti pemenang dari pandemi, karena di tengah pandemi dan tantangan ekonomi, e-sport menunjukkan tren kenaikan yang positif,” kata Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Direktur Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Kini esports semakin berkembang, baik dari segi penonton, pemain maupun perkembangannya. Di Indonesia, saat ini ada 60 juta pemain atau gamer esports yang menunjukkan pertumbuhan yang sehat.

“Saya dari regulator dan pelatih PB esports. Saya juga bangga mendorong esports menjadi salah satu cabang eksibisi di PON XX Papua, dan bisa mendukung game lokal yang bisa mengikuti kompetisi dengan PUBG Mobile.” kata Sandiaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*