Teman-Teman Marco Panari Menerima Amarah Dari Ibunda Almarhum

Teman-Teman Marco Panari Menerima Amarah Dari Ibunda Almarhum : Ibu Marco Panari mengungkapkan isi hatinya melalui jejaring sosial pribadinya. Dia tidak mengira putranya yang berusia 23 tahun akan mati.

Ibu Marco Panari, Alberthin Hartini, mengungkapkan amarahnya lewat tulisan. Sang ibu sangat marah dengan teman-teman Marco Panari.

“Tuhan mengambil Marco dengan cara yang tidak terduga, Marco membiarkan Tuhan bertemu dengan teman yang salah, anak-anak bodoh dan biadab yang membiarkan Marco menderita kematian di depan mata mereka sampai Marco kehilangan nyawanya,” tulis Alberthin Hartini.

Sebagai seorang ayah, Alberthin Hartini sangat terpukul, tiba-tiba melihat anaknya terbaring di ruang gawat darurat. Sang ibu tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan mencoba melepaskan.

“Ibu berharap kamu bisa melewati lembah air mata ini. Kamu harus jujur ​​dan menerima kenyataan ini sebagai rencana Tuhan dalam hidupmu. Marco adalah anak laki-laki yang tampan, favorit Ibu … Jodoh ibu … Ibu selalu menyayangi Marco sampai napasmu berhenti. Yerusalem Baru, Nak, “kata Albethin Hartini.

Marco Panari meninggal setelah tidak sadarkan diri di apartemen. Kepala Badan Reserse Kriminal Polres Menteng, Kompol Ghozali Luhulima mengatakan, menurut keterangan dokter, Marco Panari meninggal karena sesak napas.

Menurut polisi, Marco Panari mendatangi apartemen kerabatnya karena dihubungi oleh salah satu temannya.

“Kira-kira jam berapa Jumat (29/1) seorang teman meneleponnya lalu menyuruhnya pergi ke apartemen lantai empat. Apartemennya ada di kawasan Menteng,” kata Kompol Ghozali Luhulima kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Sesampainya di apartemen sekitar pukul 19.30 WIB, Marco Panari dan ketiga temannya meminum minuman beralkohol. Hingga akhirnya mereka pindah ke sebuah lokasi di kawasan Jakarta Selatan.

Kedua, menurut saksi yang diperiksa, mereka minum lagi. Minuman beralkohol berlanjut sampai sekitar jam 2 pagi. Marco Panari dan kawan-kawan kembali ke apartemen di Menteng sekitar pukul 07.00 pada Sabtu (30/1).

“Setelah ke sana (apartemen) lagi, minum lagi, tapi temenmu dilarang ya. Setelah itu pesan makanan,” kata Kompol Ghozali.

“Sekitar pukul 11.00 WIB karena sudah bangun korban masih tidur, masih mabuk,” lanjutnya.

Saat itu teman-temannya pulang, namun hingga sore hari belum ada kabar dari Marco Panari. Tidak ada jawaban dari telepon Marco Panari.

Ternyata, setelah temannya kembali ke apartemen untuk diperiksa, Marco Panari ditemukan tidak sadarkan diri. Teman Marco Panari yang diperiksa sebagai saksi langsung membawanya ke rumah sakit di kawasan Kali Pasir, Menteng.

“Sekitar pukul 16.00 WIB teleponnya tidak diangkat. Jadi temannya suruh cek lagi. Setelah diperiksa, (Marco) pingsan. Lalu dia coba bawa ke rumah sakit. Temannya menelepon ibunya bahwa korban tidak sadarkan diri, “Kompol Ghozali menjelaskan.

Namun ternyata, menurut dokter tersebut, Marco Panari sudah meninggal dunia saat tiba di rumah sakit.

Kini, jenazah Marco Panari telah dikremasi. Hingga saat ini, polisi masih menunggu hasil otopsi Marco Panari dari RS Polri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*