Menyikapi Anak Terjerumus Kecanduan Gim Online

Menyikapi Anak Terjerumus Kecanduan Gim Online : Komisioner KPAI Jasra Putra mengatakan, tanda-tanda kecanduan terlihat saat orang tua mengambil gadget, kemudian anak menjadi marah atau menangis keras dan berteriak. Juga berpikir bahwa jika ada anak yang dirawat di rumah sakit jiwa karena kecanduan judi, maka situasinya sudah serius.

Jasra mengungkapkan, sebenarnya di masa pandemi saat banyak anak di rumah, durasi penggunaan gadget lebih lama. Selain untuk pembelajaran sekolah online, gadget juga digunakan oleh anak-anak untuk berkomunikasi, mencari informasi dan bermain game online.

Dalam survei KPAI Juni 2020, dari 25 ribu anak yang diwawancarai berusia 10 hingga 18 tahun, 70% di antaranya sudah memiliki gadget. Gadget itu difasilitasi oleh orang tua mereka.

“Kemudian kami bertanya pada diri sendiri, untuk apa gadget atau gadget waktu ini? Misalnya ada yang belajar, ada yang game online dan kebanyakan game online. Game kekerasan, game perang. Hampir 60 persen anak mengatakan ponsel difasilitasi oleh orang tua. , rata-rata untuk game hanya 30 persen untuk belajar,” jelas Jasra Putra saat dihubungi Liputan6.com.

Dia mengatakan situasi ini harus menjadi perhatian kita. Selain itu, rata-rata mereka menggunakan gadget (gadget) lima jam sehari. Lima jam dengan penggunaan itu, hanya 30 persen untuk belajar.

“Kita berada di tahun kedua pandemi ini, jika kita tidak bisa melakukan tindakan pencegahan, baik di tingkat keluarga maupun dalam bentuk kebijakan, jelas anak-anak kita akan mengalami situasi kecanduan judi,” katanya.

Kecanduan jelas hanya salah satu efek negatif dari permainan yang berlebihan. Efek negatif lain yang harus diketahui dari permainan berlebihan antara lain gangguan penglihatan, potensi obesitas, ancaman paparan radiasi elektromagnetik yang dapat menyebabkan gangguan fungsi otak sehingga anak sulit berkonsentrasi.

Pada tahun 2016, KPAI melakukan survei dan menerbitkan daftar permainan yang tidak direkomendasikan untuk anak-anak karena dianggap berbahaya. Setelah itu, menurut Jasra, situs KPAI diserang dan dibongkar selama tiga hingga empat hari. Meski diserang, dia merasa, regulator tidak perlu takut di kemudian hari ketika harus mengomunikasikan game mana yang tidak ramah anak dan berbahaya.

Jasra mengatakan, dari beberapa permainan yang KPAI anjurkan untuk anak-anak, mungkin menjadi awal dari pengawasan orang tua dan semua pihak.

Ia berharap media massa juga terus mengedukasi bagaimana anak-anak Indonesia terlindungi dalam situasi kecanduan apapun dan dimanapun. Ketika anak mulai kecanduan game, pihak mana yang harus bertanggung jawab? Lantas siapa yang harus dinilai berperan dalam kesengsaraan anak-anak yang menjadi seperti ini?

Di sisi lain, tidak dapat disangkal bahwa di era digital sekarang ini, game juga bisa menghasilkan banyak uang. Banyak anak-anak, remaja, dewasa yang berprofesi sebagai pemain profesional. Bayarannya cukup tinggi.

Fakta ini menunjukkan bahwa anak-anak juga bisa menjadi lebih dari sekedar komoditas game online. Ketika Anda memiliki bakat dan menyalurkannya dengan cara yang positif dan mendukung, Anda akan menemukan bahwa anak-anak yang menyukai permainan dapat menjadi profesi yang produktif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*